Dayu Emilia

... I'm just a daymon

“everybody needs an inspiration”

By daymon in on 8:57 PM
everybody needs an inspiration
Kedengerannya emang simple banget kalimat di atas. Semua orang butuh inspirasi, sedikit lirik dari lagu Miley Cirus-When I look at you yang sedang aku putar malam ini. Bukan karena aku menyukai penyanyinya, kemudian aku mengatakan lagu ini bagus. Tapi lebih dari sekedar itu, pelan-pelan ternyata aku mulai menyetujui apa yang dikatakan Miley Cirus, “everybody needs an inspiration”.

Layaknya sebuah harapan, inspirasi bisa ku katakan sebagai sebuah harapan, di mana sebuah inspirasi biasanya mendorong atau menghipnotis seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa disuruh atau diminta. Dan itulah yang sekarang sedang aku rasakan. Sebuah inspirasi untukku memulai sesuatu, entah itu hal yang besar maupun kecil. Tanpa inspirasi yang sudah aku miliki kurang lebih hampir setahun ini, aku yakin aku pasti akan tetap bisa bertahan untuk menjalani semua ini. Tapi tetap terasa sangat berbeda, saat aku telah benar-benar menemukan inspirasiku ini.

Berlebihan mungkin memang kalau apa yang ku lakukan sejak hampir setahun ini, memang karna ada inspirasi itu. Setiap aku akan melakukan sesuatu, selalu terlintas di benakku seorang inspiratorku itu. Bahkan bisa ku katakan, lebih dari sekedar inspirasi. Dia benar-benar..ahhhh aku bahkan jadi kehabisan kata-kata saat akan mendeskripsikannya.

Inspirasiku memang jauh di atasku dalam banyak hal. Terkadang aku pun menjadi minder sendiri begitu menyadari ternyata dia sudah mengisi kekosongan jiwaku ini, seorang mahasiswa dengan otak biasa saja dan dia pantas mendapatkan yang lebih dari aku. Tapi, dengan segera aku pun berubah pikiran, entah menghibur diri atau bukan, aku menjadi berfikir bahwa aku nggak akan mau kalau sampai kehilangan dia dan aku harus bisa at least bisa lebih baik dari ini biarpun susah untuk bisa memiliki kemampuan seperti dia. Aku yakin kalau laki-laki baik akan mendapatkan perempuan baik-baik juga. Sekarang, di depan mataku aku melihat sesosok yang begitu baiknya, dan aku pun harus berusaha untuk menjadi yang baik untuknya.

Satnite
11.17 pm
By : heartcracker
MORE....

When a Woman Loves a Man  

By daymon in on 8:54 PM

When she says margarita she means daiquiri.
When she says quixotic she means mercurial.
And when she says, "I'll never speak to you again,"
she means, "Put your arms around me from behind
as I stand disconsolate at the window."

He's supposed to know that.

When a man loves a woman he is in New York and she is in Virginia
or he is in Boston, writing, and she is in New York, reading,
or she is wearing a sweater and sunglasses in Balboa Park and he
is raking leaves in Ithaca
or he is driving to East Hampton and she is standing disconsolate
at the window overlooking the bay
where a regatta of many-colored sails is going on
while he is stuck in traffic on the Long Island Expressway.

When a woman loves a man it is one ten in the morning
she is asleep he is watching the ball scores and eating pretzels
drinking lemonade
and two hours later he wakes up and staggers into bed
where she remains asleep and very warm.

When she says tomorrow she means in three or four weeks.
When she says, "We're talking about me now,"
he stops talking. Her best friend comes over and says,
"Did somebody die?"

When a woman loves a man, they have gone
to swim naked in the stream
on a glorious July day
with the sound of the waterfall like a chuckle
of water rushing over smooth rocks,
and there is nothing alien in the universe.

Ripe apples fall about them.
What else can they do but eat?

When he says, "Ours is a transitional era,"
"that's very original of you," she replies,
dry as the martini he is sipping.

They fight all the time
It's fun
What do I owe you?
Let's start with an apology
Ok, I'm sorry, you dickhead.
A sign is held up saying "Laughter."
It's a silent picture.
"I've been fucked without a kiss," she says,
"and you can quote me on that,"
which sounds great in an English accent.

One year they broke up seven times and threatened to do it
another nine times.

When a woman loves a man, she wants him to meet her at the
airport in a foreign country with a jeep.
When a man loves a woman he's there. He doesn't complain that
she's two hours late
and there's nothing in the refrigerator.

When a woman loves a man, she wants to stay awake.
She's like a child crying
at nightfall because she didn't want the day to end.

When a man loves a woman, he watches her sleep, thinking:
as midnight to the moon is sleep to the beloved.
A thousand fireflies wink at him.
The frogs sound like the string section
of the orchestra warming up.
The stars dangle down like earrings the shape of grapes.

By: david lehman
MORE....

perempuan itu

By daymon in on 7:59 PM
Sudah hampir satu setengah bulan, aku nggak pulang kampung. Ku akui kemarin aku memang benar-benar nggak ada waktu untuk pulang, kalaupun ada, hanya satu hari di hari Sabtu sedangkan esoknya aku harus kembali ke kota perantauanku.

Hari pertamaku di kampung, diam-diam aku memperhatikan wajah perempuan yang sedang berdiri di depanku yang sedang sibuk menghidangkan makanan untuk semua orang yang di rumah. Ku lihat wajahnya sudah tak sperti dulu lagi, banyak keriput di sana sini. Wajahnya pun tampak layu, tak sesegar dulu. Entah karena memang dia sudah menua atau karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkannya, ahh bukan,, terlalu banyak hal yang harus ditanggungnya.

Saat aku mencoba merengkuh pundaknya dan memijatnya, aku merasa sedikit terenyuh, perempuan ini benar-benar sudah tak seperti dulu. Dia memang tak seperti perempuan-perempuan lain yang semestinya masih segar dan tulangnya masih cukup kuat. Ku pikir, dia memang sudah menua. Berulang kali, diam-diam aku mengaguminya. Dia benar-benar superwoman bagiku. Dialah yang rela membanting tulang kecilnya itu untuk mengumpulkan kepingan-kepingan logam ini untuk membiayai sekolahku. Dialah yang tetap kuat saat di ujung lelahnya, dia masih diminta untuk melakukan ini dan itu.

Malam itu, ku rasakan ada bulir-bulir air yang sudah bersiap untuk memaksa keluar dan membasahi pipiku. Berulang kali ku tahan, tapi ternyata aku masih belum bisa sekuat perempuan itu. Ahh..aku terlalu malu kalau sampai dia melihat basahan yang ada di pipiku ini. Di balik pintu kamar, aku mencoba menenangkan diri dan mulai menghapus basahan-basahan ini. Kemudian aku coba mendekati perempuan itu, sengaja aku ingin mengobrol dengannya.

Belum sampai aku membuka percakapan, dia sudah mendahuluiku, katanya “aku lagi gak ada duit, gimana uang sakumu buat balik ke Solo besok? Ditambah, tagihan listrik yang sudah sampai ke batas akhir pembayaran. Bapakmu, tak pernah sedikitpun berifikir untuk membantuku mencari solusinya”. Seketika itu juga, aku terhentak. Masih, masalah klasik ini muncul terus di rumah ini. Seringkali aku ingin mengelak, aku ingin menghindar, aku ingin acuh tak acuh dengan masalah ini.

Tapi, saat aku kembali menatap wajah perempuan itu, bulir-bulir ini memaksa keluar. Saat aku berfikir untuk menjadi egois, apakah itu berarti aku harus meninggalkan perempuan ini sendiri memikul beban ini? Saat aku berfikir untuk cuek, haruskah perempuan ini tersudut sendiri memutar otak untuk membuat dapurnya tetap mengebul tiap hari? Saat aku berfikir untuk menganggap tidak terjadi apa-apa, haruskah aku lantas begitu saja berangkat ke kota perantauanku? Aku sungguh tak ingin membiarkannya sendirian di sana. Aku sungguh ingin kembali padanya tanpa harus pergi merantau lagi, menemani selagi aku masih ada kesempatan.

Aku tahu, tak lama lagi, kakakku akan meninggalkannya karna dia pun akan punya hidup sendiri bersama keluarganya yang baru, sedangkan kakakku yang laki-laki pun akan sibuk entah merantau entah tidak, yang pasti dia pun akan sibuk mencari bekal untuk hidupnya sendiri nantinya. Ku fikir, aku tak ingin meninggalkannya di sana sendirian, aku ingin menemaninya entah untuk berapa lama. Tapi yang pasti, aku ingin segera menyelesaikan studiku ini dan kembali satu atap bersama perempuan itu.

Dia bilang, saat aku telah menyelesaikan studiku, aku bisa merantau ke Madura mencari pekerjaan di sana, ditempat budheku. Dia juga bilang, aku akan lebih enak di sana karena untuk sementara waktu, aku bisa menjadi guru bantu di sekolah tempat budheku mengajar. Ku akui, dulu aku memang sangat menggebu-gebu ingin segera ke sana. Sekarang? Sungguh aku ingin menemanimu di sini dan membantumu atau setidaknya aku ingin menjadi pelampiasanmu saat tetesan-tetesan terakhir keringatmu itu mulai habis.

Dulu aku memang tak pernah memperdulikan apapun yang terjadi di atap ini, tapi sekarang entah apa yang telah mengubah cara berfikirku. Setiap kali ada sesuatu yang terjadi di atap ini, apapun yang ku lakukan seperti tanpa arah. Semuanya menjadi kacau, aku selalu terngiang-ngiang dengan itu semua hingga pada akhirnya aku pun lebih sering menerawang memikirkan berbagai hal yang telah aku alami di sini. Pikiranku tak pernah lepas memikirkan bagaimana caranya membantu perempuan itu.

Aku sadar mungkin aku memang belum bisa sepenuhnya membantunya, tapi at least bisa untuk menambah uang makanku di kota perantauanku. Pikirku, seorang mahasiswa Bahasa Inggris semester tujuh, jadi akan lebih baik kalau aku pakai saja ilmu yang sudah ku dapat di bangku kuliah selama ini dengan menjadi guru les. Setiap selebaran di kampus, aku perhatikan satu per satu. Ada banyak memang lowongan pekerjaan, namun kebanyakan persyaratannya minimal S1.

Aku pun berusaha bertanya ke sana kemari kepada teman-temanku yang memang sudah lebih dulu mengajar les. Banyak dari mereka yang aku tanyai, heran kepadaku. Pasalnya, aku sudah semester tujuh dan seharusnya aku lebih konsen pada penyusunan skripsiku bukan malah mencari-cari pekerjaan. Tapi itulah yang memang sedang ingin aku lakukan. Aku menyadari semakin hari, kebutuhanku semakin bertambah sedangkan aku tak mungkin meminta perempuan itu untuk menaikkan uang sakuku. Dialah alasan yang membuatku sangat menggebu-gebu ingin mengajar les.

Ingin ku katakan padanya bahwa aku begitu menyayanginya dan aku sungguh-sungguh tak ingin melihat wajahnya semakin berkerut di sana sini karena memikirkan banyak hal yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Seorang perempuan luar biasa yang telah mengajariku banyak hal yang tak pernah ku temukan di manapun. Seorang perempuan yang membuatku tahu akan arti sebuah perjuangan. Seorang perempuan yang membuatku yakin bahwa kita bisa berdiri sendiri dengan dua kaki kita di dunia ini. Seorang perempuan yang benar-benar ingin ku bahagiakan nantinya. Dan ku panggil dia, IBU, bukan mama, mami, umi, emak, atau yang lainnya.


Sunday
1.33 am
By : heartcracker
MORE....